Sit In

 Tuesday, October 25, 2005

Beberapa hari yang lalu gue main ketempat dulu gue ngajar, semeseter ini emang gue gak ngajar sama sekali, kebetulan temen gue ada yang kuliah disana. Temen gue bilang asal almamater dosen yang ngajar sama ama gue, tapi temen gue gak tau siapa namanya. Akhirnya gue iseng bilang ke temen gue, kalo gue mau ikutan kuliahnya dia, yang secara kebetulan nama mata kuliahnya sama dengan mata kuliah yang dulu gue ajar.

Awalnya temen gue bilang kalo yang ngajar angkatan 2001, dan itu berarti dibawah gue, tapi sebenernya sih temen gue juga gak yakin juga angkatan berapa?. Akhirnya pada hari yang ditentuin, gue bareng sama temen gue ke tempat kuliah. Kemudian temen gue sama mahasiswa yang lainnya siap2 masuk ke tempat kuliah, temen gue bilang dosennya udah dateng. Terus gue liat ada laki-laki yang mau masuk ke gedung. Perasaan gue kenal, aha benerlah temen gue bilang kalo dia emang lulusan satu almamater sama gue. Cuma kali ini temen gue salah, dia bukan angkatan 2001 mungkin yang dimaksud lulusan tahun 2001 (kali ya...), karena jelas laki-laki yang mau ngajar ini jelas kakak kelas waktu gue kuliah dulu.

Haha lucu juga kalo ketemu orang satu almamater ditempat lain, waktu pas masuk kelas gue sapa "Pak ngajar disini?".
Laki2 itu nengok dan bales bilang "Eh, kirain siapa... lagi ngapain?" tanya dia
"Biasa iseng, penasaran katanya temen gue yang ngajar kuliah asalnya dari **, eh ngomong katanya ada dua orang yang ngajar, siapa satu lagi?" tanya gue sama dia
"Si ***" bales dia
"Si ***************?" tanya gue lagi sambil nyebut nama lengkapnya
"Iya dia"
"Ohhh, eh gue numpang Sit In ya...? :)" kata gue minta izin
"Ohh iya" bales dia
Mungkin para mahasiswa yang di kelas pada penasaran liat gue yang orang luar kok ngobrol ditengah kelas sama dosen, untungnya pelajaran belum dimulai.

Akhirnya pelajaran dimulai, dia mengeluarkan beberpa lembar kertas hasil print yang berisi materi kuliah. Gue perhatiin kayaknya ngajarnya langsung ke programmingnya, dan gue menduga beberapa konsep OOP masih belum dipahami oleh sebagian besar mahasiswa.

Lain ladang emang lain belalang, ya emang beda cara satu orang menyampaikan materi. Sejujurnya gue ikutan sit in kuliah ini pengen ngebandingin cara gue ngajar dulu, dengan orang lain, siapa tau gue bisa banyak belajar dari orang lain. Benar saja, paling gak ada beberapa anak yang coba bertanya berkaitan dengan materi kuliah yang saat itu membahas java keyword untuk "public" dan "private" (untuk keyword "protected" di-pending sampai materi "inheritance" diberikan"). Pertanyaannya kadang diajukan dengan cara yang lucu, polos sehingga satu kelas hampir banyak dari mahasiswa yang hadir tertawa dengan pertanyaan yang diajukan itu. Gue yang denger, diem2 aja, tapi gue tau pasti para mahasiswa yang tertawa itu sebenernya juga penasaran dengan jawaban, hanya mereka terlalu gengsi mengajukan pertanyaan itu, gue hargai banget mahasiswa yang berani nanya saat itu.

Sebagian pertanyaan hanya diatanyakan oleh mahasiswa yang itu-itu aja, paling cuma 3 orang aja, sisanya diem2 aja. Suatu saat ada mahasiswa yang bertanya ke dosennya, situasi kapan kata kunci "public" dan "private" sebaiknya digunakan?
Sang dosen menjawab "semua itu tergantung dari desainnya..."
Gue saat itu sedang memposisikan sebagai orang awam, dan gue rasa jawaban seperti itu terlalu abstrak, kurang memberikan gambaran yang jelas, akhirnya tanpa bermaksud "mengganggu", gue angkat tangan meminta izin untuk menambahkan penjelasan sang dosen.

Sang dosen memberi izin, dan gue mulai siap untuk mencoba membantu menjelaskan jawaban sang dosen. Gue mencoba menjelaskan dengan agak terbata-bata, sejujurnya gue agak gugup juga waktu pas mulai berbicara, padahal waktu pas dulu gue ngajar gak sampe gugup gini. Akhirnya setelah beberapa saat gue berbicara, mulai hilanglah rasa gugup itu, gue memberikan contoh analogi penggunaan "private", gue gunakan contoh manusia, disitu gue jelaskan "...setiap manusia adalah objek yang terdiri dari objek-objek, anda objek saya objek, tapi saya gak bakal bisa mengutak atik bagian tubuh yang terlindung dari kalian, seperti hati, jantung, otak, coba bayangkan apa jadinya kalo saya bisa mengutak-ngatik komponen tubuh anda, misal otak anda? nah itulah padanan penggunaan private, yaitu melindungi anggota objek dari campur tangan objek lainnya. Contoh yang lain mesin mobil, kita gak akan bisa mengutak-atik cara kerja dan komponen-komponen yang ada didalam mobil, apa kita bisa secara langsung mengakses atau mengatur cara kerja masing-masing komponen yang ada didalam mesin? enggak kan? yang bisa ngatur cuma mesin itu sendiri, nah itulah kira-kira analogi penggunaan kata kunci private, jelas gak?" kata gue bertanya, seolah gue yang jadi pengajar dikelas itu, gue jadi lupa kalo gue disitu cuma lagi sit in. Gue melihat beberapa mahasiswa menganggukan kepala, ya jadi gue anggap mereka paham analogi gue, jadi gue serahin lagi semua ke dosennya. Dosennya membenarkan analogi gue, kemudian dia menambahkan "jadi gunakan 'private' sesuai kebutuhan, apa yang harus emang disembunyikan bisa kita berikan status 'private'"

Gara-gara gue "ngerecokin" sang dosen memberikan penjelasan, kayaknya beberapa mahasiswa mulai melihat kalo gue emang sebenernya bukan mahasiswa, gak heran setelah kuliah beres, gue sempat ngobrol lagi dengan dosen, waktu pas keluar para mahasiswa yang ada di luar kelas menyapa gue "balik pak?". Mereka manggil gue "pak"? wah mereka kayaknya salah panggil tuh, tapi gue gak ambil pusing, gue bales aja "iya". Terus mereka tanya "emang rumahnya dimana sih pak?"
"Itu deket dengan si H (temen gue)" bales gue,
"Oooh deket rumahnya si Boby (nickname temen gue)?".
"Iya..." bales gue
Terus salah satu dari mereka spontan bilang "pak ajarin java dong, pak...".
Gue bilang "boleh aja kapan-kapan..." sambil senyum gue ngeloyor balik.

Ternyata gue gak balik dulu, gue mampir dulu ke toko buku, baca beberapa buku yang dijual disana. Ada yang buku yang berisi kisah-kisah, gue gak beli tapi baca aja :), dan salah satu ceritanya ada yang cukup menggelitik, jadi ceritanya itu:

Ada seorang lelaki bernama fulan, mukanya pas-pasan, pendek, pokoknya bisa dibilang gak menarik, tapi si fulan ini punya istri yang sangat cantik sekali, pokoknya gak seimbang antara si lelaki dengan perempuannya. Ketika si fulan memandang istrinya dia bilang "Wahai istriku alangkah cantiknya dirimu, begitu melihat wajahmu aku menjadi bersyukur kepada tuhan atas anugrah yang telah diberikannya". Kemudian sang istri membalas, "Kelak suatu saat kita mungkin bisa bertemu di surga bersama-sama"
"Tapi bagaimana kau bisa tahu bahwa kita suatu saat bisa bersama-sama disurga nanti?"
"Begini, kau merasa beruntung mendapatkan aku (yang cantik ini) sehingga engkau menjadi bersyukur, bukankan orang yang bersyukur akan masuk surga? Sedangkan aku mendapatkan engkau (yang gak ganteng), maka aku bersabar ketika melihat engkau, bukankah orang yang bersabar juga akan mendapatkan pahala untuk masuk ke surga?"

Setelah baca itu gue jadi senyum-senyum, gue balik halaman-halaman yang lainnya sepertinya ceritanya menarik-menarik, tapi entah kenapa gue kok gak beli buku itu ya? Gue malah beli dua buku yang lain, salah satunya malah buku memasak tentang "Pastry dengan cita rasa Oriental" yang padahal isinya belum tentu dipraktin sama gue, tapi untungnya adik gue gak keberatan mempraktekan salah satu resep yang sederhana, sayangnya proses pembuatannya gak gue foto jadi yah males juga gue nampilin disini :) *ternyata susah juga bikin pastry keliatan berlapis-lapis*.

0 Comments: