Salah Satu Resiko Punya Anak

 Wednesday, November 10, 2004

Tadi pas gue berangkat, seperti biasa naik kereta. Di deket tempat duduk yang gue dudukin, gue lihat ada seorang ibu bersama dengan 4 orang anak-anak. Kemungkinan besar keempat anak itu adalah anak-anaknya. Anak paling besar, laki-laki perkiraan gue laki-laki kelas 3 - 4 SD. Yang tiga lainnya masih kecil-kecil, cewek semua. Ada yang masih seumuran anak TK, ada yang masih batita dan ada juga yang masih bayi di gendong oleh si ibu ini.

"Ketenangan" di gerbong itu tetap seperti "ketenangan" gerbong kereta seperti biasanya. Namun akhirnya "ketenangan" di gerbong ini mulai terganggu dengan rengekan anak tertua dari si ibu yang gue sebutin sebelumnya. Saat itu lewat penjual mainan mobil-mobilan semacam Tamiya. Saat itu sang anak minta dibelikan mainan yang bermerek Auldey. Sang anak merengek-rengek terus ke sang ibu. Si ibu diam tak banyak berkomentar sampai akhirnya tak tahan dengar rengekan sang anak yang terus menerus minta dibelikan, si ibu ini memukul atau mencubit anaknya ini.

Suasana di gerbong berubah, semua perhatian mengarah ke si ibu ini. Sang anak yang ngotot minta di belikan mainan mobil-mobilan masih terus-terusan merengek. Karuan saja si ibu tidak tahan dengan rengekan si anak, akhirnya keluar kembali amarah si ibu ini, kali ini dilemparkan satu plastik air minuman ringan ke arah si anak. Air yang dilempar ini bukannya kena ke si anak malah nyasar ke arah orang lain, beruntung tidak ada orang yang kena lemparan plastik berisi air minum si ibu.

Tidak puas dengan melempar satu plastik air minum, si ibu mengeluarkan cacian kepada si anak. Saat itu cacian yang keluar dari mulut seorang ibu kepada sang anak cukup "kasar", si ibu memaki anaknya dengan ucapan (kira-kira) seperti ini "Setan, dari tadi udah dibilangin gak ada duit masih aja gak ngerti". Agak kaget juga gue denger seorang ibu mengucapkan "setan" dihadapan anaknya. Maklum kedua orang tua gue semarah apapun gak pernah mengucapkan kata-kata itu ataupun kata-kata yang merendahkan lainnya, jadi ya agak heran aja.

Karuan seluruh mata penumpang akhirnya tertuju kearah ibu dan anak yang sedang "berseteru" ini. Seperti tak malu dan tak menyerah, sang anak tetap saja merengek-rengek. Setiap rengekan dibalas dengan cubitan atau sekedar pukulan dengan cacian kepada si anak oleh ibunya. Sampai akhirnya cacian orang tua dibalas kembali oleh makian si anak ke orang tuanya (kira-kira) seperti ini: "Monyet, pelit amat sih minta beliin aja gak dikasih". Lebih kaget lagi gue, ada anak berani-berani ngomong "Monyet" ke orang tuanya... geleng-geleng gue orang-orang yang hadir di situ juga coba nasehatin si anak supaya gak boleh ngomong seperti itu.

Dasar udah kepalang pengen, tetep aja si anak masih ngotot pengen dibeliin mobil-mobilan. Kebetulan saat itu penjual mobil-mobilan sudah pergi entah kemana. Si anak makin marah aja sama ibunya. Beberapa ibu-ibu lainnya coba meyakinkan si anak kalo mainan seperti itu masih banyak, dengan harapan si anak berhenti merengek.

Akhirnya si ibu menyerah dengan keinginan anaknya ini. "Ya udah panggilin sana tukang jualannya" ujar si ibu meskipun dengan nada tidak ikhlas.
"Ya udah sini atuh duitnya aja" bales si anak
"Yeeee.... cari dulu tukang jualnya baru entar ditawar" bales si ibu
Beberapa penumpang lainnya (ibu-ibu) mencoba meyakinkan si anak supaya nurut dengan omongan ibunya supaya mencari tukang jualannya itu.

Akhirnya tukang jualan mainan itu dateng juga. Kali ini si ibu mencoba menawar mainan seharga 5 ribu rupiah, dari harga 15 ribu rupiah yang ditawarkan penjual mainan. Dalam hati gue... gile dari 15 ribu ke 5 ribu mah gak mungkin dapet lah. Dan memang bener, ditolak juga... tapi dengan alasan ingin menolong akhirnya si penjual mau menurunkan harganya jadi 12 ribu rupiah. Si penjual ngakunya kalo harga mainan itu di toko bisa mencapai 25 ribu. Akhirnya si ibu mengeluarkan 2 lembar 5 ribuan. Si penjual protes, masih kurang 2 ribu lagi. Si ibu coba membujuk supaya di impaskan saja... dengan alasan "cuma balik modal beli gak ngambil untung" si penjual tetep ngotot minta kurangan dua ribu itu. Untungnya ada ibu-ibu yang duduk disamping si ibu ini yang mau berbaik hati menutup kekurangan duit dua ribu itu. Untunglah setelah dibelikan rengekan si anak berhasil reda juga.


Gue coba berandai-andai, seandainya gue menjadi ibu itu, punya anak yang terus menerus merengek, pasti bakalan malu kalo gue jadi orang tua yang punya anak kayak gitu. Duh gak kepikiran deh kalo berada dalam posisi si ibu itu. Yah sepertinya itu memang resiko memiliki anak.
Kalo kata orang-orang, "Berani berbuat harus berani bertanggung jawab". Berani buat anak harus berani mendidik dan membesarkannya.

Gue gak tau apa yang salah dengan si ibu ini dalam mendidik, sampai si anak berani mengeluarkan kata-kata "Monyet" saat dia emosi entah itu ditujukan ke ibunya atau sekedar melampiaskan amarah, yang jelas gue cukup kaget denger anak masih kecil aja udah berani ngomong "Monyet" ke orang tuanya... :( gimana kalo udah gedenya!. Tapi kalo ngeliat si ibu yang juga berani mengucapkan kata "Setan" ke anaknya, sepertinya kata-kata kasar si anak memiliki hubungan timbal balik.

Ternyata gak gampang ya, (meskipun baru ngeliat aja sih) ngedidik anak. Kata siapa ya? katanya kalo ingin punya anak yang berbicara halus dan sopan, maka orang tua haruslah berbicara dengan halus dan sopan lebih dahulu kepada si anak. Mungkin (mungkin, karena gue juga belum ngalamin!) saran itu ada benarnya, orang tua harus memberikan tauladan yang baik kepada anak-anaknya.

Kalo contoh yang diatas sih belum terlalu ekstrim, kalo yang ekstrim tuh kalo ada anak yang berani perkosa ibunya sendiri, atau ada anak yang berani bunuh orang tuanya sendiri itu mungkin baru ekstrim, seperti banyak diberitaain di acara-acara kriminal di TV-TV Indonesia saat siang hari.

Satu pertanyaan yang sampe sekarang belum terjawab oleh gue adalah:
"Dari sekian banyak anak-anak manusia yang dilahirkan, banyak dari anak-anak itu yang akan tumbuh tidak sesuai dengan harapan orang tua pada umumnya (jadi orang baik, jadi orang yang berbakti, dsb). Mengapa masih banyak pasangan suami-istri yang gak pernah kapok untuk tetap ingin punya anak?, bahkan sampe muncul berbagai macam pengobatan supaya pasangan suami istri yang kesulitan memiliki anak dapat segera mendapatkan anak, padahal kalaupun entar berhasil punya anak, belum tentu anaknya jadi anak yang bisa dibanggakan! bahkan bisa jadi menghinakan keluarga"

atau kalo yang mau lebih ekstrimnya, "Tuhan pasti tau sebagian besar manusia adalah pembangkang yang nyata terhadap diri-Nya, tapi kenapa Dia masih membiarkan manusia melahirkan dan berkembang biak yang pada akhirnya akan membuat pendurhaka-pendurhaka baru bagi diri-Nya bertambah banyak ke muka bumi ini. Mengapa tidak dihentikan saja produksi manusia jika kenyataannya banyak yang jadi 'produk gagal'!".
Entahlah!... karena hanya Tuhan sendiri yang tau alasannya.

Ehm, tulisan diatas semata-mata hanya opini dari seseorang yang belum punya anak :) mungkin suatu saat opini akan berubah, seiring dengan perjalanan waktu dan pengalaman :D

7 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Linda juga kalo liat anak2x sekarang suka mikir jadi takut buat punya anak :( takut nanti salah ngedidik....apalagi yg namanya perubahan zaman itu semakin cepat kan? dan terutama pengaruh lingkungan yg sangat besar buat si anak nantinya :(

Thursday, November 11, 2004 9:02:00 AM  

Blogger alvifauzan said...

Kalo sekarang yang paling dikhawatirkan itu Lingkungan. Sebaik apapun didalam keluarga kalo lingkungannya buruk, sedikit banyak bakalan mempengaruhi jiwa si anak... apalagi sekarang yang namanya informasi baik yang berguna ataupun yang sampah begitu banyak dan mudahnya sampai ke tangan kita semua (termasuk anak-anak).
Seringkali anak-anak gak bisa bedain mana informasi yang berguna mana yang sampah... pas dapet yang sampah repotlah kalo jadi orang tua, gak mungkin kan ngawasin anak 24 jam non stop, belum lagi kalo anak dilarang-larang terhadap sesuatu (informasi) biasanya bukannya malah menjauhi tapi malah penasaran.... yah intinya sih emang makin gak gampang deh kayaknya didik anak-anak jaman sekarang ini... :(

Thursday, November 11, 2004 2:31:00 PM  

Anonymous Anonymous said...

Tapi seenggaknya klo didikan di dalam keluarga udah baik, si anak itu punya tameng dari pengaruh lingkungan. Memang itu balik lagi ke anaknya sendiri, tapi sedikit banyak pasti ada nilai2 yang udah tertanam dari didikan keluarga yang bisa jadi penyaring terhadap informasi yang dia terima dari luar.
Belum lagi masalah 'working parents'. Orang tua yang seharusnya menghabiskan waktu membimbing anak menuju kedewasaan, jaman sekarang ini lebih sibuk kerja gara2 tuntutan ekonomi...
*sigh* Memang gak gampang ya, jadi orang tua itu...

~lefhen (http://www.tabulas.com/~lefhen)

Thursday, November 11, 2004 4:02:00 PM  

Blogger alvifauzan said...

Setuju emang musti dari keluarga dulu sih kayaknya. Cuma justru itu kadang yang jadi masalah. Saat ini kebutuhan hidup tuh sangat banyak banget.... gue gak bisa ngebayangin untuk masuk TK aja ada yang udah jutaan bayaran pertahun (atau semester?), belum kuliah yang pastinya nanti pasti bakal mahal banget. Masuk UI aja udah 25 juta man!.
Nah untuk menutup biaya hidup keluarga dan biaya masa depan anak, orang tua sekarang di tuntut kerja yang lebih keras. Karena sering gak nutup dengan tuntutan hidup, akhirnya istri terpaksa harus turut bekerja... akhirnya ya kadang-kadang pendidikan anak bisa jadi terabaikan... :(
Buat anda-anda yang telah "sukses" dalam hidup atau setidaknya "sukses" karena telah berhasil mendapatkan pendidikan yang baik, sepertinya kesuksesan anda itu tidak lepas dari keberhasilan peran orang tua anda-anda sekalian dalam mendidik anak-anaknya :) *semoga*

Thursday, November 11, 2004 4:40:00 PM  

Anonymous Anonymous said...

linda: iya2x setuju...peran orang tua dalam mendidik anak itu besar bgt, terutama untuk menghadapi lingkungan tempat si anak berinteraksi.
Linda pengennya kalo bisa gak mesti kerja nantinya *he3x* tapi ya itu tadi....kalo ingin mendapatkan pendidikan yg bagus buat anak, biaya yg dikeluarkan gak sedikit :( belum untuk biaya2x lainnya :(
Belum berkeluarga aja, mikirnya udah pusing duluan *_@

Btw Alvi, shoutbox nya gak bisa diisi ya? beberapa kali nyoba isi, gak muncul di shoutboxnya. Pengen ngucapin slmt hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir batin, Taqabballahu Minna wa Minkum. Met berlibur...

Friday, November 12, 2004 10:50:00 AM  

Blogger APA KATA DUNIA said...

karena udah pada tahu mendidik anak itu susah. makanya kalian yang masih merasa jadi anak... ya jadilah anak yg baik dulu, nurut ma ortu n baik2 dalam bersikap ke mereka. biar ntar kalo dah jadi ortu kalian juga dibaikin ama anak kalian. betul kan teman-teman .... :P

Saturday, February 02, 2008 12:35:00 PM  

Anonymous Anonymous said...

hem gue juga lom jadi ortu seeh ...

Saturday, February 02, 2008 12:36:00 PM